Poroskaltim.com, MOJOKERTO - Komitmen Bank Indonesia dalam mendorong penguatan ekonomi daerah melalui sektor UMKM dan pariwisata kembali terlihat dalam kegiatan Capacity Building yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Jumat (22/5/2026).
Pada hari kedua kegiatan tersebut, sebanyak 29 wartawan diajak mengunjungi Wisata Sawah Sumber Gempong di Desa Wisata Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Desa wisata yang berada di lereng Gunung Welirang dan Penanggungan dengan ketinggian 700 hingga 1.200 mdpl itu merupakan salah satu mitra binaan Bank Indonesia Jawa Timur.
Selain menyuguhkan panorama alam pegunungan yang sejuk dan asri, Desa Ketapanrame juga mengembangkan wisata budaya, edukasi, hingga wisata perkebunan kopi dan jeruk. Perkebunan kopi yang menjadi salah satu unggulan desa ditanam di kawasan perhutanan seluas 69 hektare dan dikelola oleh 215 petani lokal.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, mengatakan perkembangan pesat desa wisata tersebut tidak lepas dari pendampingan intensif yang diberikan Bank Indonesia Jawa Timur sejak tahun 2024, khususnya dalam pengembangan UMKM berbasis kopi dan ekosistem pariwisata desa.
“Bank Indonesia tidak hanya hadir membantu dari sisi promosi, tetapi juga mendampingi kami dari hulu hingga hilir. Mulai dari penanaman kopi, perawatan, panen, pengolahan, sampai pemasaran,” ujar Zainul.
Menurutnya, setelah mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai sekitar 70 ribu pengunjung setiap bulan.
Tak hanya itu, produk kopi lokal Ketapanrame juga mulai dikenal lebih luas hingga menembus pasar internasional. Bank Indonesia disebut aktif menghadirkan buyer dari berbagai negara, termasuk China dan Jepang, untuk melihat langsung potensi kopi desa tersebut.
“Kopi kami sekarang naik kelas. Dulu hanya dikenal di lokal, sekarang mulai dikenal di luar negeri. Bahkan pernah ada permintaan produk kopi hingga satu kontainer dari Jepang,” katanya.
Bank Indonesia juga memberikan dukungan berupa sarana produksi dan pengolahan kopi. Bantuan tersebut meliputi mesin pemilah kopi, mesin roasting, grinder, rumah produksi, hingga genset berkapasitas besar untuk menunjang operasional pengolahan kopi.
Selain sektor kopi, dukungan BI juga menyasar pengembangan fasilitas wisata. Sejumlah gazebo dibangun untuk kenyamanan pengunjung, termasuk bantuan perangkat kasir digital dan perlengkapan penunjang operasional lainnya.
Zainul menyebut total dukungan yang diberikan Bank Indonesia kepada Desa Ketapanrame dan kelompok kopi binaannya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
"Tertinggi laba yang kami dapat pada tahun 2023 yakni mencapai Rp4,4 milyar per-tahun. Namun ketika di 2024 laba wisata ini mengalami penuruan hingga Rp2,7 miliar, ditahun itulah BI masuk memberikan peran penting yang sangat signifikan, sehingga tren kunjungan dan pendapatan mulai kembali meningkat,” jelasnya.
Memasuki pertengahan 2026, pihak desa optimistis pendapatan desa wisata kembali bertumbuh hingga mencapai Rp2,3 miliar dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya melalui inovasi produk serta penguatan ekosistem wisata berbasis UMKM.
Menurut Zainul, inovasi menjadi kunci utama agar desa wisata tetap bertahan dan berkembang di tengah persaingan sektor pariwisata. Karena itu, pendampingan Bank Indonesia dinilai sangat membantu dalam menghadirkan ide pengembangan baru, termasuk diversifikasi produk turunan kopi seperti kukis kopi dan berbagai produk olahan lainnya.
“Harapan kami, desa wisata ini terus berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan dukungan Bank Indonesia, UMKM kami semakin percaya diri untuk naik kelas,” tutupnya. (man)
Tulis Komentar