Ya, namanya Juwarti. Seorang ibu rumah tangga yang pada pandangan pertama, tampak seperti perempuan kebanyakan. Namun siapa sangka, dari tangan sederhana itu lahir produk kesehatan bernama "Black Garlic Nikimie", yang kini menjadi salah satu mitra Bank Indonesia (BI) dalam penguatan klaster Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ketahanan pangan.
Sore itu, Sabtu (25/4/2026), untuk pertama kalinya saya menapakkan kaki di rumah Juwarti. Tempat tinggal bersama Suami dan anaknya yang sekaligus dijadikan kedai usahanya. Kedatangan saya pun disambut dengan senyum hangatnya.
Terlihat, tidak ada papan nama besar, tak ada gerai mewah. Hanya mesin-mesin produksi berjajar di garasi yang direnovasi menjadi petak produksi. Ruang tamu disulap menjadi tempat pengemasan, dan teras berfungsi sebagai etalase. Namun dari wadah sederhana itulah, lahir sesuatu yang dipercaya banyak orang sebagai “obat” bagi tubuh.
Satu persatu dengan perlahan ia menceritakan cerita hidupnya. Kisah dari wanita biasa, hingga menjadi pencetus "Black Garlic Nikimie" di bumi borneo ini.
Bicara Juwarti terkesan tergesa-gesa, tapi tetap bisa dipahami setiap tutur katanya. Sesekali ia tampak menyapu keringat di dahinya, tanda lelahnya setelah seharian melayani konsumen yang datang silih berganti ke gerainya.
“Kekuatan besar terkadang lahir dari tempat yang kecil,” ucap Juwarti, setengah berseloroh, namun penuh makna.
Di hadapan saya, ia menunjukkan bawang hitam pekat, hasil fermentasi bawang putih yang dipanaskan pada suhu rendah selama berminggu-minggu. Teksturnya lembut, hampir seperti jeli, dengan rasa asam-gurih dan sedikit manis yang jauh dari kesan menyengat bawang mentah.
Healty Food ini katanya, sebuah pangan fungsional yang menurut Juwarti, mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol, hingga menjaga kesehatan jantung.
Namun, bagi Juwarti, kisah ini bukan bermula dari bisnis. Melainkan dari kebutuhan.
Tahun 2019 menjadi titik awal. Saat itu, suaminya bekerja di lokasi tambang, sebuah pekerjaan yang menuntut kondisi fisik selalu prima. Fluktuasi kesehatan menjadi kekhawatiran tersendiri.
“Saya berpikir, bagaimana caranya supaya kondisi suami tetap stabil," kenangnya.
Dari situlah ia mulai mengonsumsi black garlic yang dibuatnya. Awalnya hanya untuk keluarga sendiri. Ia mencoba, mengamati, dan memastikan manfaatnya benar-benar terasa. Perlahan, perubahan itu hadir. Dari Sesiung bawang fermentasi yang dikonsumsi membuat kesehatan suaminya lebih terjaga, kondisi tubuhnya sendiri pun membaik.
Cerita itu menyebar. Dari satu orang ke orang lain. Dari rekan kerja suami hingga lingkar pertemanan. Tanpa promosi besar, tanpa strategi pemasaran rumit, hanya dari mulut ke mulut. Kepercayaan pun tumbuh.
"Dari itu lah, saya dan suami berinisiatif memulai usaha Black Garlic ditahun yang sama. Hingga mengurus izin usaha dan halalnya. Modalnya dikumpul dari menyisihkan gaji suami untuk membeli bahan dan peralatan. Kami produksi sendiri, awalnya hanya satu kilo," cerita wanita berusia 46 tahun itu.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Di tengah langkah awalnya, cibiran datang silih berganti.
“Ngapain jual bawang? Orang bisa bikin sendiri,” begitu kira-kira suara yang sempat ia dengar.
Alih-alih goyah, Ibu tiga anak ini memilih bertahan. Ia percaya pada proses. Ia tahu, apa yang ia bangun bukan sekadar produk, melainkan solusi.
Nama “Nikimie” pun lahir dari filosofi sederhana. Dalam bahasa Jawa, niki berarti “ini”, dan mie ia maknai sebagai “saya”.
“Ini loh saya,” ujarnya, menjelaskan identitas yang ia tanamkan dalam produknya.
Seiring waktu, langkah kecil itu mulai mendapat perhatian lebih luas. Termasuk dari Bank Indonesia perwakilan Balikpapan. Awalnya, Juwarti hanya mengikuti program sertifikasi halal gratis yang diinisiasi BI. Namun dari situlah, usahanya masuk dalam radar pembinaan.
Produknya dianggap unik, proses produksi yang tidak umum, serta dampaknya terhadap kesehatan menjadi alasan kuat. Black Garlic Nikimie pun dikurasi dan resmi menjadi bagian dari klaster UMKM binaan Bank Indonesia Balikpapan.
Sejak saat itu, perjalanan usahanya memasuki babak baru. Ia tidak lagi berjalan sendiri. Pendampingan datang dalam berbagai bentuk komitmen Bank Indonesia, seperti pelatihan pembukuan, penguatan branding, strategi pemasaran digital, hingga keikutsertaan dalam pameran.
Juwarti pun mendapatkan pelatihan tenaga ahli Singapura, demi mematangkan kualitasnya.
“Dari 2019 sampai sekarang, kami terus dibina BI. Setiap tahun ada pelatihan. Kami diajarkan mengelola sosmed, pembukuan, pengemasan, manajemen mengelola usaha, dan banyak manfaat lainnya," tuturnya.
"Malahan kalau ada event, kami diinapkan di hotel sampai tiga hari. Dan produk kami sering dibeli untuk hampers,” sambungnya.
Dukungan itu bukan hanya meningkatkan kapasitas usaha, tetapi juga membangun kepercayaan pasar. Label sebagai mitra Bank Indonesia menjadi semacam “jaminan mutu” yang memperkuat posisi produknya.
Kini, dari satu mesin fermentasi, Juwarti telah memiliki sepuluh mesin dengan kapasitas produksi ratusan kilogram. Dibandrol dari harga Rp40.000-Rp250.000, konsumennya pun tak lagi terbatas di Balikpapan, Samarinda atau Kutai Kartanegara. Pesanan datang dari berbagai daerah, yakni Papua, Pekanbaru, Medan, Jakarta, hingga Sulawesi. Bahkan, para pekerja Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pelaut kerap membeli sebagai bekal perjalanan.
"Dulu konsumennya bisa dihitung dengan jari, tapi sekarang sudah ada ribuan pembeli. Terbanyak, ramai dari Shopee," ucapnya bersyukur.
Menariknya, inovasi terus ia lakukan. Menyadari tidak semua orang terutama anak-anak, menyukai bentuk asli black garlic. Juwarti memodifikasi ciptaannya dengan melahirkan varian baru, yaitu jus black garlic berwarna hitam dan garlic jus warna putih. Yang kesemuanya memiliki campuran jahe, madu, lemon, dan cuka apel.
Jus berwarna hitam dengan rasa yang lebih ramah di lidah. Sedangkan Jus putih memberikan sensasi hangat di tenggorokan. Semua diracik dengan satu tujuan, seyogianya membuat manfaat kesehatan lebih mudah diterima semua kalangan.
Meski telah berkembang, Juwarti tidak berhenti bermimpi. Ia ingin memiliki rumah produksi yang lebih besar, memperluas kapasitas, bahkan menembus pasar internasional.
"Sampai sekarang, saya dan suami masih memproduksi sendiri. Tapi, kami berencana membuka rumah produksi lebih besar di Jalan Syarifuddin Yoes dengan luas bangunan 20×30 meter, yang tengah berproses izin IMB. Dan akan mempekerjakan dua karyawan," ungkapnya.
Namun di balik ambisi itu, ia tetap membumi. Baginya, perjalanan usaha adalah tentang bertahan dalam proses. Tentang tetap melangkah meski perlahan. Tentang tidak tergoda melihat langkah orang lain.
“Kadang naik, kadang turun. Tapi harus tetap bertahan. Fokus saja dengan apa yang kita punya,” pesannya.
Di sisi lain, kisah Juwarti menjadi potret kecil dari upaya besar penguatan ekonomi kerakyatan. Melalui pembinaan UMKM, Bank Indonesia mendorong terciptanya usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing.
Teranyar, pada Februari 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan kembali menegaskan komitmennya dalam membangun fondasi ekonomi kerakyatan. Sebanyak 65 pelaku UMKM di wilayah kerja BI Balikpapan telah dikurasi dalam satu program terarah, bukan sekadar untuk mengembangkan usaha, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, termasuk pengendalian inflasi.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak, sektor UMKM dipandang sebagai tulang punggung yang mampu menjaga keseimbangan, terutama melalui penguatan klaster ketahanan pangan. Dari sinilah, sinergi dibangun, antara pembinaan usaha kecil dan kepentingan ekonomi yang lebih luas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan bahwa upaya ini bukanlah program sesaat. Sejak 2008 lalu, Bank Indonesia telah merintis pengembangan ekonomi kerakyatan sebagai bagian dari strategi berkelanjutan.
“UMKM tidak hanya didorong untuk tumbuh, tetapi juga diberdayakan. Kami hadir melalui pelatihan, bantuan teknis, hingga edukasi yang menyentuh berbagai aspek usaha,” ujar Robi Ariadi saat temu media, Kamis (29/1/2026).
Pendampingan tersebut dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari penguatan kapasitas produksi, pengelolaan keuangan, hingga perluasan jaringan pasar. Bahkan, pelaku usaha tidak dibiarkan berjalan sendiri setelah mendapatkan bantuan awal.
“Kami memiliki kewajiban mendampingi mitra selama minimal tiga tahun, bahkan bisa lebih. Sampai mereka benar-benar siap bersaing di pasar, barulah dilepas,” jelas Robi Ariadi.
Pendekatan ini menjadi kunci. Sebab, bagi Bank Indonesia, membangun UMKM bukan hanya tentang menciptakan usaha baru, melainkan memastikan keberlanjutan dan daya saingnya.
Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga pilar utama yang terus didorong. Pertama, korporatisasi mendorong UMKM agar dikelola secara profesional, mulai dari proses produksi hingga peningkatan nilai jual. Kedua, peningkatan kapasitas, agar pelaku usaha mampu berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Ketiga, akses pembiayaan, dengan menghubungkan UMKM yang telah siap menuju sektor perbankan agar menjadi usaha yang bankable.
Sejatinya, fokus Bank Indonesia Balikpapan tak hanya berhenti di situ. Selain UMKM makan minum laiknya "Black Garlic Nikimie", BI juga membangun berbagai klaster usaha di bidang lain sebagai ekosistem yang saling menguatkan.
Seperti, di sektor pesantren, terdapat tujuh mitra yang mengembangkan beragam unit usaha, mulai dari laundry, konveksi, bengkel, hingga peternakan.
Sementara di sektor pangan, pembinaan difokuskan pada kelompok tani seperti Gapoktan Karya Tani Mulia dan Wahana Tani di wilayah Penajam Paser Utara. Komoditas yang dikembangkan pun strategis, seperti padi dan bawang merah, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pengendalian inflasi.
Di sisi lain, klaster fashion turut berkembang dengan belasan mitra yang memproduksi batik, tenun, aksesoris, hingga kerajinan kayu. Tak kalah penting, sektor makanan dan minuman menjadi kelompok terbesar dengan puluhan mitra, menghadirkan produk mulai dari kopi, gula aren, olahan buah, hingga aneka makanan ringan.
"Jadi cukup beragam usahanya. Kami harapkan mereka yang akan menjadi pionir dalam hal mendisain dan memasarkan produk masing-masing," harap Robi Ariadi.
Keragaman ini mencerminkan satu hal, ialah UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang saling terhubung.
Untuk memperkuat daya saing, Bank Indonesia juga menghadirkan berbagai bentuk pendampingan lanjutan. Mulai dari menghadirkan agregator dari dalam dan luar negeri, pelatihan bersama Kementerian Perdagangan, hingga edukasi terkait hak kekayaan intelektual dan perlindungan merek.
"Kami sudah cukup banyak melakukan pendampingan. Bahkan kami datangkan tenaga ahli dari Singapura dan Surabaya," ungkapnya.
Menurutnya, langkah ini menjadi penting, mengingat tidak sedikit pelaku usaha yang berkembang pesat, namun belum memiliki perlindungan hukum atas produknya.
“Banyak kasus, UMKM sudah besar, tapi mereknya justru didaftarkan pihak lain lebih dulu. Ini yang kami antisipasi melalui pendampingan,” kata Robi Ariadi.
Bagi UMKM yang telah siap, pintu ekspor pun mulai dibuka. Mereka dibimbing untuk memahami proses, dokumen, hingga standar yang dibutuhkan agar mampu bersaing di pasar global.
"Pada akhirnya, seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan, sejatinya melahirkan pelaku usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi pionir di bidangnya," pungkas Robi Ariadi.
Akhir kata, bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia berawal dari dapur kecil, dari niat sederhana untuk menjaga orang terdekat, dari keberanian mencoba sesuatu yang dianggap sepele. Seperti bawang putih yang perlahan berubah menjadi hitam, diam, namun penuh makna. Dan dari sana, takdir pun ikut terfermentasi.
Dalam konteks ini, Black Garlic Nikimie menemukan tempatnya sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar, yaitu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. (man)
Tulis Komentar