Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Cerita Ibu Itte seorang Lansia yang tinggal di RT 32, Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara telah menyentuh banyak hati. Warga sekitar, yang kerap melihat nenek itu beraktivitas dengan tertatih-tatih, mengaku prihatin. Tak sedikit yang berharap agar pemerintah turun tangan, membantu melalui program bedah rumah atau bantuan sosial lainnya.
“Kami sudah sampaikan permohonan resmi ke kelurahan. Kondisi Bu Itte sangat darurat. Kalau bisa, pemerintah segera bertindak,” ungkap Ketua RT 32, Kahar, penuh harap.
Cerita Itte pun akhirnya sampai ke telinga Dinas Sosial Kota Balikpapan. Kepala Dinsos, Edy Gunawan memberikan tanggapan atas situasi tersebut. Menurutnya, semua bantuan dari pemerintah termasuk bedah rumah tidak bisa diberikan begitu saja, melainkan harus melalui prosedur dan data yang jelas.
“Setiap bantuan punya jalur administrasi. Harus ada laporan dari RT, diverifikasi oleh kelurahan, dan datanya harus lengkap, termasuk legalitas tanah dan status kemiskinan,” jelas Edy saat memberikan keterangan, pada Kamis (17/7/2025).
Namun ia juga menegaskan bahwa kewenangan bedah rumah berada di Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), bukan Dinsos. Meski begitu, Dinsos tetap memiliki program bantuan dasar seperti sembako dan pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga miskin yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
“Saat ini kami mencatat sekitar 16 ribu warga miskin di Balikpapan. Jika Bu Itte termasuk dalam data tersebut, maka Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) akan turun langsung mengevaluasi. Terutama yang masuk kategori miskin ekstrem, hidup sendiri, dan tidak punya penghasilan, maka itu jadi prioritas,” ujarnya.
Prosesnya memang tidak bisa instan, karena menurut Edy, setiap langkah pendataan hingga verifikasi dilakukan agar bantuan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
“Bukan tidak peduli, tapi kami harus pastikan bahwa semua sesuai prosedur. Bantuan yang tidak melalui jalur resmi berisiko tidak berkelanjutan dan tidak adil bagi warga lain yang juga membutuhkan,” tegasnya.
Warga RT 32 pun terus berharap. Bagi mereka, bantuan kepada Itte bukan hanya soal perbaikan rumah reyot, melainkan sebuah bentuk penghargaan kepada seseorang yang telah menjalani hidup dalam kesunyian dan kesederhanaan.
“Kalau rumah Bu Itte bisa diperbaiki, itu bukan sekadar menambal dinding atau mengganti atap. Itu bentuk nyata negara hadir bagi rakyatnya yang paling rentan,” kata Kahar, dengan nada lirih.
Kini, harapan tinggal menanti langkah konkret pemerintah. Di tengah gegap gempita pembangunan kota, semoga tak ada lagi sosok seperti Itte yang luput dari perhatian. (man)
Tulis Komentar