Keterangan Gambar : Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi (kiri).
Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Harga rumah baru di Balikpapan pada triwulan I 2026 tercatat terus mengalami kenaikan. Di sisi lain, harga properti komersial masih menunjukkan tren penurunan, meski mulai melandai dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,43 persen (yoy).
Kenaikan harga rumah baru terjadi pada seluruh tipe rumah, baik tipe besar, kecil, maupun menengah. Rumah tipe besar mencatat kenaikan harga tertinggi sebesar 2,93 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,27 persen (yoy).
Sementara itu, rumah tipe kecil mengalami kenaikan harga sebesar 1,85 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 0,14 persen (yoy). Adapun rumah tipe menengah mencatat kenaikan paling rendah sebesar 0,38 persen (yoy), meski tetap lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 0,07 persen (yoy).
"Kenaikan harga rumah tersebut dipengaruhi kebijakan sejumlah pengembang yang melakukan penyesuaian harga jual untuk mengakomodasi kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja," jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi dalam keterangan rilis, Jumat (29/5/2026).
Di tengah kenaikan harga, volume penjualan rumah baru justru mengalami penurunan cukup dalam. Pada triwulan I 2026, jumlah rumah baru yang terjual hanya mencapai 72 unit, turun 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 162 unit.
Penurunan tersebut melanjutkan tren perlambatan sejak 2025 dan lebih dalam dibandingkan triwulan IV 2025 yang turun 42,79 persen (yoy) dengan penjualan sebanyak 119 unit.
Penjualan rumah tipe kecil menjadi yang paling terdampak, turun dari 109 unit menjadi 36 unit atau merosot 66,97 persen (yoy). Penjualan rumah tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit atau turun 40,62 persen (yoy), sedangkan rumah tipe menengah turun dari 21 unit menjadi 17 unit atau melemah 19,05 persen (yoy).
Meski seluruh segmen mengalami penurunan, rumah tipe kecil masih mendominasi pasar dengan pangsa penjualan sebesar 50 persen. Namun angka tersebut turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 67 persen. Pangsa rumah tipe menengah naik menjadi 24 persen, sedangkan rumah tipe besar meningkat menjadi 26 persen.
Robi mengatakan, BI Balikpapan menilai penurunan penjualan rumah dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya masyarakat yang lebih memprioritaskan kebutuhan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri pada awal tahun, sehingga pembelian hunian belum menjadi prioritas utama.
"Selain itu, kenaikan harga rumah yang cukup signifikan membuat sebagian konsumen memilih menunda keputusan membeli rumah baru," tambahnya.
Penurunan penjualan juga berdampak pada berkurangnya jumlah unit rumah yang dibangun sepanjang triwulan I 2026.
Meski demikian, para pengembang tetap optimistis terhadap prospek pasar properti ke depan. Sejumlah developer berencana fokus membangun rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau, disertai strategi promosi yang lebih agresif dan inovasi desain rumah untuk menarik minat konsumen.
Dari sisi pembiayaan, mayoritas konsumen masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membeli hunian baru. Pada triwulan I 2026, penggunaan skema KPR tercatat sebesar 71 persen dari total transaksi.
Namun, angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 87,7 persen, sejalan dengan melemahnya penjualan rumah, terutama tipe kecil.
Sementara itu, pembelian secara tunai tercatat sebesar 15 persen dan tunai bertahap sebesar 14 persen.
"Bank Indonesia mencatat sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor properti di Balikpapan, antara lain kenaikan harga bahan bangunan, kualitas kredit calon konsumen, kendala perizinan dan birokrasi, keterbatasan lahan perumahan, prioritas belanja masyarakat untuk kebutuhan hidup, serta kenaikan suku bunga KPR," terang Robi.
Berbeda dengan sektor residensial, harga properti komersial di Balikpapan masih mengalami penurunan pada triwulan I 2026.
Hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat sebesar 105,70 atau turun 0,10 persen (yoy). Meski demikian, penurunan tersebut lebih baik dibandingkan triwulan IV 2025 yang turun 0,36 persen (yoy).
Perbaikan terutama ditopang membaiknya kinerja sektor perhotelan. Harga pada segmen hotel tercatat turun 3,63 persen (yoy), lebih baik dibandingkan penurunan sebelumnya yang mencapai 9,95 persen (yoy).
Membaiknya sektor hotel didorong tingginya mobilitas pekerja seiring operasionalisasi Kilang Pertamina Balikpapan, berlanjutnya pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN), serta meningkatnya aktivitas MICE dan kegiatan kedinasan di Balikpapan.
Sementara itu, sektor ritel dan perkantoran mencatat harga yang relatif stabil di tengah penguatan permintaan.
Bank Indonesia Balikpapan menilai perkembangan sektor properti di Balikpapan masih memiliki prospek positif ke depan. Hal itu didukung berlanjutnya proyek industri hilirisasi dan pembangunan kawasan strategis di Kalimantan Timur.
Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendukung pembiayaan sektor properti, termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit pada sektor prioritas, termasuk perumahan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemulihan sektor properti secara berkelanjutan.
"Berbagai kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga optimisme pelaku usaha properti di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung," tutup Robi. (*)
Tulis Komentar