Poroskaltim.com, BALIKPAPAN – Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan terus memperluas akses pasar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Upaya tersebut membuahkan hasil positif melalui partisipasi UMKM dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 dan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 tahun 2026, dengan potensi transaksi yang dihimpun mencapai sekitar Rp17,46 miliar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan keikutsertaan UMKM dalam pameran berskala nasional dan internasional merupakan bagian dari strategi penguatan sektor riil, perluasan jaringan bisnis, serta peningkatan kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga harus diikuti dengan perluasan akses pasar, promosi produk, pendampingan, dan penguatan jejaring bisnis yang berkelanjutan.
“Bank Indonesia terus mendorong UMKM binaan dan mitra agar mampu meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pemasaran, serta memanfaatkan peluang bisnis di pasar domestik maupun internasional. Melalui partisipasi dalam ISEF dan TEI, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi produk unggulan daerah untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dan mitra bisnis,” ujar Robi.
Pada pekan ketiga Oktober 2026, KPwBI Balikpapan memfasilitasi partisipasi UMKM binaan dan mitra dalam dua ajang strategis tersebut. ISEF 2026 berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 14–18 Oktober, sedangkan TEI ke-41 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada 14–18 Oktober 2026.
Dalam ISEF 2026, BI Balikpapan melibatkan empat UMKM, terdiri atas dua pelaku usaha modest fashion dan dua UMKM makanan serta minuman olahan. Sementara itu, tujuh UMKM dari sektor makanan dan minuman olahan serta kriya difasilitasi mengikuti TEI 2026.
Dari kedua ajang tersebut, UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan menghimpun 14 Letter of Intent (LOI) senilai Rp9,10 miliar dan tiga Purchase Order (PO) senilai Rp2,75 juta. Capaian tersebut dilengkapi potensi transaksi dari 12 LOI pada TEI yang mencapai sekitar Rp8,36 miliar, serta penjualan langsung selama pameran.
Robi menegaskan, capaian tersebut menjadi indikasi terbukanya peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM daerah. Namun, tindak lanjut setelah pameran menjadi faktor penting agar minat pembeli dapat berkembang menjadi transaksi yang terealisasi.
“Capaian ini merupakan langkah positif bagi UMKM untuk memperluas jejaring dan menjajaki kerja sama bisnis lintas negara. Selanjutnya, kami akan terus mendorong pendampingan dan komunikasi dengan calon pembeli agar komitmen yang telah terbangun dapat ditindaklanjuti menjadi transaksi nyata dan berkelanjutan,” katanya.
Produk Lokal Unjuk Kualitas di ISEF 2026.
Dalam rangkaian ISEF 2026, dua UMKM modest fashion binaan dan mitra BI Balikpapan, HHarum dan Rumah Ampiek, mendapat kesempatan menampilkan karya mereka dalam perhelatan IN2MOTIONFEST (Indonesia International Modest Fashion Festival) dan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW).
HHarum menghadirkan koleksi modest fashion yang memadukan unsur tradisional dan modern melalui penggunaan batik, kain shibori, tenun khas daerah, serta detail sulaman yang terinspirasi dari kekayaan budaya Kalimantan Timur.
Sementara itu, Rumah Ampiek mengangkat batik sebagai identitas budaya sekaligus bagian dari gaya hidup modern. Produk yang ditampilkan mengedepankan desain berkelas tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
Selain tampil dalam agenda fesyen, empat UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan, yakni Rumah Ampiek, HHarum, Kampoeng Timoer, dan Bungas Wedang Dayak, turut memasarkan produk melalui stan pameran.
Selama ISEF 2026, penjualan langsung dari keempat UMKM tersebut mencapai Rp80,54 juta. Rumah Ampiek mencatat penjualan Rp43,11 juta, disusul HHarum sebesar Rp22,99 juta, Kampoeng Timoer Rp9,67 juta, dan Bungas Wedang Dayak Rp4,77 juta.
Peluang ekspor juga terbuka melalui kegiatan business matching dengan pembeli internasional. Bungas Wedang Dayak memperoleh dua LOI dari Belanda dan Australia dengan nilai total Rp739,84 juta, serta satu PO dari Australia senilai Rp1,2 juta.
LOI dari Ben Helen, Belanda, tercatat senilai Rp699,84 juta, sedangkan LOI dari Abu Husein Mixed Business, Australia, mencapai Rp40 juta. Adapun PO dari Citadels Logistics, Australia, bernilai Rp1,2 juta.
Dengan capaian tersebut, nilai komitmen dan pesanan yang dihimpun Bungas Wedang Dayak melalui business matching mencapai sekitar Rp741 juta. HHarum juga menjajaki kerja sama dengan calon mitra dagang dari Tunisia dan Filipina.
Dukungan promosi BI Balikpapan dalam ISEF turut diperluas melalui Halal Mart yang melibatkan produk enam UMKM, yakni Trubus Iman, Bontings, CB Food, Wedang Dayak, Salakilo, dan Delkoff. Selain itu, produk PT Deli Koffie Indonesia (Delkoff) dipromosikan melalui program Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor (Jawara Ekspor).
TEI Buka Peluang Transaksi Rp8,36 Miliar.
Pada TEI 2026, tujuh UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan yang berpartisipasi terdiri atas Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM), Bonles Food, Amplang Ikan Asik, Mantau Fya, Salakilo, Gunaco, dan Fixty.
Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, berdialog langsung dengan calon pembeli, serta mempelajari kebutuhan dan tren pasar internasional. Para pelaku usaha juga dapat mengembangkan pemahaman mengenai pemetaan pasar, preferensi konsumen, dan peluang kemitraan ekspor.
Dari rangkaian promosi dan penjajakan bisnis tersebut, UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan menghimpun 12 LOI dari delapan pembeli internasional maupun pelaku perdagangan Indonesia, dengan perkiraan nilai transaksi mencapai Rp8,36 miliar atau setara US$474.931.
Libya menjadi negara tujuan dengan nilai LOI terbesar, mencapai sekitar Rp6,68 miliar atau 79,9 persen dari total nilai yang dihimpun. Selanjutnya, transaksi dari calon pembeli Vietnam tercatat Rp876,13 juta, Tiongkok Rp394,96 juta, Australia Rp256,51 juta, dan Korea Selatan Rp154,88 juta.
Berdasarkan nilai LOI, Bonles Food mencatatkan potensi transaksi terbesar dengan nilai Rp2,14 miliar. Sementara itu, Mantau Fya, Salakilo, Amplang Ikan Asik, Gunaco, dan Fixty secara keseluruhan disebut berhasil menarik minat calon pembeli dengan nilai transaksi berdasarkan LOI sebesar Rp4,08 miliar.
Adapun KIM memperoleh jumlah LOI terbanyak, yakni empat dokumen dengan nilai total mencapai Rp805,49 juta.
Selama TEI 2026, penjualan langsung UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan tercatat sebesar Rp13,50 juta. Penjualan tersebut terutama berasal dari pembelian sampel produk oleh calon pembeli internasional.
Robi menyampaikan, keikutsertaan dalam pameran internasional tidak hanya berorientasi pada penjualan selama kegiatan berlangsung. Pengalaman berinteraksi langsung dengan calon pembeli juga menjadi modal bagi UMKM untuk memahami standar pasar dan mempersiapkan produk agar semakin kompetitif.
BI Perkuat Pendampingan Pascapameran.
Untuk memastikan peluang bisnis dapat ditindaklanjuti, KPwBI Balikpapan akan memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan para calon pembeli yang telah menyampaikan komitmen melalui LOI maupun PO.
Langkah yang disiapkan mencakup pemantauan perkembangan realisasi transaksi, komunikasi lanjutan dengan calon pembeli, pendampingan pengiriman sampel, serta penyusunan penawaran harga yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
BI Balikpapan juga mendorong UMKM melengkapi persyaratan administrasi dan legalitas usaha, memenuhi kebutuhan sertifikasi ekspor, meningkatkan kualitas kemasan dan pelabelan, serta memastikan kesinambungan produksi.
“Pendampingan setelah pameran menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan kerja sama. UMKM perlu memastikan kualitas produk, kesiapan produksi, kelengkapan dokumen, dan kemampuan memenuhi permintaan pembeli. Dengan demikian, peluang yang diperoleh tidak berhenti pada komitmen awal, tetapi dapat berkembang menjadi transaksi ekspor yang berkelanjutan,” ujar Robi.
Ia menambahkan, penguatan UMKM akan terus dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta berbagai institusi terkait. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal, memperluas pasar ekspor, mendorong pertumbuhan sektor riil, dan membuka peluang penciptaan lapangan kerja di daerah.
Melalui pendampingan yang berkesinambungan dan perluasan jejaring bisnis, BI Balikpapan berharap semakin banyak UMKM daerah yang mampu menembus pasar internasional sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (*)
Tulis Komentar