Poroskaltim.com, BOYOLALI - Di sebuah sudut Kabupaten Boyolali, berdiri sebuah kelompok usaha tani yang namanya mungkin terdengar unik yaitu Aspakusa Makmur. Akronim dari Asparagus, Kucay, dan Sayuran, kelompok ini lahir pada 10 November 2005 dengan satu tujuan sederhana yakni membantu petani menyalurkan hasil panennya hingga bisa menembus rak-rak pasar modern.
Juga menjadi bagian dari Mitra Binaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Solo, produk yang melibatkan petani lokal hingga putra-putri daerah ini terus berkomitmen. Kini, Aspakusa Makmur semakin menunjukkan kualitasnya hingga merambah ke pasar-pasar modern.
Dwi Lestari Pujiastuti selaku pengelola Aspakusa, mengenang perjalanan kelompok ini. Awalnya, Aspakusa mendapat banyak dukungan dari program misi Taiwan, mulai dari kendaraan operasional hingga sarana prasarana. Namun sejak 2011, kelompok yang kini resmi berbadan hukum lewat akta notaris (14 Juli 2010) itu memilih untuk mandiri.
“Alhamdulillah, sejak 2011 kami bisa swadaya. Semua berjalan dengan kekuatan kami sendiri,” ujar Dwi saat dikunjungi media Balikpapan di produksi Aspakusa, Senin (8/9/2025).
Kini, Aspakusa Makmur tumbuh dengan 21 anggota inti, termasuk pekerja yang menjaga malam. Mereka mempekerjakan ibu-ibu sekitar untuk bagian dressing dan packing. Setiap siang, sekitar 12 ibu rumah tangga datang membantu mengemas sayuran. Sistem kerjanya harian, dengan perhitungan upah bulanan. Ada yang sudah setara UMR, ada pula yang menyesuaikan kemampuan karena faktor usia.
Aspakusa Makmur memiliki visi meningkatkan kesejahteraan petani lewat produksi hortikultura premium. Caranya, dengan menjaga kualitas hasil panen. Sayur-sayuran segar mereka melalui proses grading, Grade A untuk pasar modern, Grade B dijual keliling, Grade C untuk pakan ternak, dan Grade D menjadi kompos.
“Grading ini penting agar sayuran sampai ke konsumen dengan kualitas terbaik,” jelas Dwi.
Tak hanya itu, teknologi Plasma Ozone juga diterapkan untuk memastikan sayuran tetap segar lebih lama dan higienis ketika sampai di ritel. Tak heran, Aspakusa kini bisa memproduksi hingga 80-100 jenis sayuran, dari sayuran daun hingga sayuran keras, selain komoditas utama seperti asparagus dan kucay.
Dampaknya cukup terasa. Petani yang tergabung bahkan bisa meraup penghasilan Rp30 juta hingga Rp40 juta dalam sepekan. Total perputaran usaha Aspakusa sendiri mencapai lebih dari Rp100 juta setiap bulannya.
Bank Indonesia (BI) Solo, sebagai mitra binaan, menilai Aspakusa punya peran penting dalam menjaga stabilitas harga pangan dan pengendalian inflasi daerah.
“Aspakusa ini unik karena sudah punya kontrak dengan supermarket. Itu membuat mereka bisa menanam sepanjang musim, tak bergantung pada siklus alam. Stok terjaga, harga tidak naik turun ekstrem,” kata perwakilan BI Solo.
Selain memotong rantai distribusi yang biasanya panjang, Aspakusa juga memperkuat daya tawar petani. Jika biasanya harga tinggi hanya dinikmati di pasar, kini petani bisa ikut merasakan nilai lebih dari kerja keras mereka.
Ke depan, Aspakusa berencana memperluas pasar dengan menjajaki tren baru seperti sayuran kering (dry vegetables) dan sayuran beku (frozen vegetables). Jalur pemasaran pun tak lagi hanya offline, tapi juga online melalui platform seperti Sayurbox dan Cloud Supply.
"Alhamdulillah, kami ada membantu dengan sebuah mobil pada tahun 2020 lalu. Kami juga bantu berikan post storage box," tutupnya. (man)
Tulis Komentar